Maaf, Hati.

Sekali-kali ada baiknya mengikuti kata hati. Demi kesehatan jiwa, katanya.

Maklum. Seiring usia bertambah, manusia acapkali lupa menggunakan hati. Umumnya, manusia lebih memilih mengikuti si nalar. Lebih dapat dipertanggungjawabkan, katanya.

Hari ini. Si hati meronta untuk didengarkan. Dengan sayup dia memohon, untuk sekali saja dia ingin diikuti kehendaknya.

Keinginan si hati, sungguh besar rupanya. Si hati bersikukuh, bahwa hari ini dia benar. Masa bodoh dengan si nalar. Sungguh egoisnya si hati, memang.

Besarnya keinginan si hati sampai dapat mempengaruhi si nalar. Katanya, kalau si hati tidak bisa ditenangkan, si nalar pun tidak bisa berfungsi sebagaimana harusnya. Sungguh mengancam kesehatan jiwa.

Atas dasar memelihara kesehatan jiwa, aku sebagai tempat si hati berdiam, mengutarakan keinginan si hati kepada si Pemilik. Bahwa si hati ingin keinginannya diikuti.

Sayangnya. Dengan keterbatasanku, maksud si hati tidak tersampaikan dengan baik. Alih-alih mendapatkan hal yang diinginkannya, si hati malah terluka. Ini kan tidak sulit, katanya.

Rasa bersalah segera muncul. Si hati, sudah berdiam di tempatku selama 24 tahun. Selama beberapa tahun terakhir, aku tidak pernah mendengarkan apa yang si hati mau. Si hati sering diabaikan. Tidak heran, akupun tidak pernah benar-benar mengerti si hati. Alih-alih berusaha lebih, aku memilih mengikuti si nalar yang kemauannya lebih dapat aku pertanggungjawabkan.

Kemauan si nalar memang selalu dapat dipertanggungjawabkan, buktinya adalah aku yang masih bertahan hidup hingga detik ini. Hanya saja, semakin kesini aku semakin sadar, kemauan si nalar mungkin selalu dapat dipertanggungjawabkan, selalu logis dan rasional, tetapi kemauan si nalar sejatinya tidak selalu dapat membawa kebahagiaan yang sesungguhnya. Aku memang bertahan hidup dengan memilih si nalar, tapi aku lupa, bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya datang dari hati.

Kebahagiaan datang dari si hati, si hati yang terkadang tidak rasional dan tidak logis. Si hati yang tidak berhitung. Si hati yang kadang terlalu lemah dan tidak memikirkan kesehatannya. Si hati yang bertentangan dengan si nalar.

Manusia tidak lepas dari nalar dan hatinya. Dalam hidup, apa iya si nalar selalu bisa dipertanggungjawabkan? Apa iya si hati selalu mengancam kesehatan jiwa? Apa iya manusia selalu bisa memperhitungkan keadaan? Apa iya kebahagiaan dapat digapai tanpa mengambil resiko?

Aku benar-benar merasa bersalah dengan hati. Hanya karena aku tidak bisa mengungkapkan isi hati dengan baik, aku selalu berakhir dengan mengabaikan si hati. Padahal, Hati, kamu yang berjasa membuatku menjadi manusia. Kamu yang membuat aku merasa. Kamu yang membuat aku bahagia dengan mengambil resiko.

Hati, maafkan aku, ya. Hanya karena keterbatasanku dan egoisku sebagai manusia yang bisa berpikir, aku menyalahkan kamu akan segala ketidakbahagiaan diri. Aku yang tidak berusaha lebih kuat untuk mengikuti kata hati dan menyampaikan isi hati, tapi aku menyalahkan kamu dan membela si nalar. Maafkan aku, Hati.

Hati, aku akan berusaha lebih keras lagi untuk memperjuangkan yang kamu inginkan. Meski si nalar berkata tidak. Karena hati, aku tau, kamu lah yang membuat aku merasa. Adanya kamu membuat aku bahagia tanpa perhitungan. Sedangkan si nalar hanya mampu menjaga. Dan aku ingin hidup dengan bahagia sesungguhnya, bukan hanya menjaga diri agar tidak terluka. Aku tidak mau melepaskan bahagia yang tidak dapat terhitung yang mungkin aku dapatkan hanya karena hal yang dapat kuperhitungkan.

Maaf, Hati. Aku akan berusaha lebih lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s